Surat untuk Kader: Pandemi Tidak Mematikan Perkaderan


Setinggi apapun jabatan yang kamu emban nanti, kamu tetaplah Kader


Pandemi yang tengah terjadi setidaknya telah ‘melumpuhkan’ Indonesia sejak  Presiden mengeluarkan putusan terkait penanggulangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), diikuti Pimpinan Pusat baik Muhammadiyah maupun IMM sendiri. Namun bukan berarti kita jadi ikut me-lockdown proses perkaderan yang telah menjadi tanggungjawab ikatan.

Mungkin kaca mata dan sudut pandang yang dipakai setiap Kader akan berbeda, bervariasi. Bagi pimpinan yang tengah mengemban amanah, pandemi berdampak kacau untuk segala rencana kerja yang telah disusun. Sewajarnya mereka akan memutar otak, mencari jalan keluar supaya rumah yang mereka tinggali tetap hidup sebagaimana mestinya. Bagi Kader yang dinaungi, pandemi bisa jadi mempengaruhi minatnya dalam berkecimpung di ikatan atau merasa rindu akan kajian keilmuan, diskusi sambil ngopi sampai larut dan sebagainya. Sewajarnya pula mereka mulai bertanya apa yang IMM lakukan? Atau bahkan karena pandemi ini, kita jadi lupa bahwa kita punya tanggung jawab dipundak sebagai Immawan dan Immawati. Kita jadi saling berasumsi. 

Belum lagi kegiatan online (himbauan work form home) yang jadi rutinitas menjemukan dan tetap ‘bikin capek’, jauh dari imajinasi rebahan. Kegilaan tidak hanya berhenti pada semua yang harus berjarak, isu-isu media pun ikut campur jadi toxic tersendiri bagi kesehatan mental ketika sedang menghadapi pandemi yang demikian mencekam. Kesehatan fisik terancam, kesehatan mental terganggu, kegiatan online menyita waktu, tenaga dan pikiran, lalu organisasi hiatus. Frustasi adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan ikatan saat ini. Gak iso lapo-lapo, kata orang Jawa. Kapan terakhir kita berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana kabar ikatan? Apa pimpinan ku baik-baik saja? Apa kader ku baik-baik saja?

Rencana kerja mungkin berubah seluruhnya tetapi kita tak boleh lupa kalau ada religiusitas-intelektualitas-humanitas yang harus dicapai untuk menggarap keagamaan-kemahasiswaan-kemasyarakatan sebagai lahan gerak. Selama pandemi berlangsung sudah seberapa berusaha kita dalam mencapai itu semua? Alasan macam apa yang menghalalkan kita berhenti berproses?

Lelahnya mungkin berkali lipat lebih terasa, justru disaat inilah prinsip lillahi ta’ala menyelamatkan kita. Dalam cobaan akan selalu ada kemudahakan, nikmati waktu-waktu tersulitnya selama kita semua masih bersama. Sebab adalah kehancuran bagi mereka yang menyerah, spirit ini harus tetap kita genggam apapun yang terjadi untuk terus menyemarakkan pengabdian. 

Tetaplah berdiskusi meski tak ada kopi dan duduk melingkar. Tetaplah membaca meski tak ada tatap muka untuk membedah bukunya. Tetaplah memahami semua yang perlu dipahami meski terpisah jarak dan waktu.  Tetaplah mendampingi dan jadi bagian dari hidup kader yang kalian naungi. Tetaplah berbakti meski tak bertemu dan terkadang tersiksa rindu. Jadilah manusia bebas yang mempertanyakan banyak hal, ini dan itu. Miliki lah kesadaran kritis yang utuh bahwa kita harus tetap berlomba-lomba dalam kebaikan. Tidak ada alasan untuk berhenti.

Pimpinan tetap melanjutkan amanah, kader yang dinaungi juga tetap bertanggung jawab atas apa yang sudah tersemat dipundaknya. Semua harus tetap sinkron dan dikomunikasikan, supaya tidak ada asumsi yang tumbuh ditengah kekacauan pandemi ini. Cukuplah media yang menjadi toxic, cukuplah virus yang menjadi ancaman. Jangan sampai buruknya komunikasi memperparah keadaan ikatan, sedang kita punya tanggung jawab untuk menghidupi rumah ini.

Jadikan jarak sesuatu yang tidak berarti, kompetensi dasar harus tetap dikejar. Jangan jadi jumawa dengan enggan ambil pusing memenuhi kompetensi, tetaplah sadar diri ditengah pandemi dengan tidak menjadi kader yang menyusahkan orang lain. Sehingga ketika pandemi berakhir kita tidak akan tertinggal dan kekurangan suatu apapun, lalu kita bisa kembali melanjutkan membentuk akademisi islam untuk mewujudkan cita-cita Muhammdiyah. 
Billahi fi sabilil haq, fastabiqul khairat!

Malang, 3.34 WIB

Ditulis Oleh: Immi. Manda Intan Danastri

Comments

Popular posts from this blog

Puritanisme dalam Perspektif Sejarah dan Perbandingan Antaragama: Tinjauan Kristen dan Islam

Purifikasi dalam Muhammadiyah: Kajian Ilmiah Tentang Manhaj Tarjih dan Tajdid

Fikihnya Muhammadiyah: Menelusuri Manhaj Tarjih sebagai Pondasi Pemikiran