Surat Untuk Mahasiswa: Jadilah Berguna!


Sebagai seorang pelajar kita pasti tahu, bahwa tugas utama seorang pelajar adalah belajar. Namun sebagai mahasiswa, apakah tugas tersebut bisa diartikan hanya sekedar belajar dengan sudut pandang umum orang memaknainya. Belajar itu membaca buku, mengerjakan tugas, menulis skripsi, lalu lulus begitu saja. Atau ada juga mahasiswa yang mengartikan bahwa belajar bukan selalu urusan pena, buku, dan bangku. Mereka menikmati aktivitas yang ada di dunia kampus, menikmati politik kampus, melakukan demonstrasi, dan lain sebagainya yang membuat kecanduan dan membuat mereka merasa sudah melakukan banyak hal besar. Lantas apa sebenarnya tugas sebagai seorang mahasiswa?

Padahal, hal yang disebutkan diatas hanyalah bagian kecil dari persiapan yang akan dihadapi kelak di dunia nyata (Masyarakat). Meskipun ada juga mahasiswa yang seringkali apatis terhadap dunia di sekitarnya, sehingga timbul pikiran egosentris dalam kehidupannya. Hal ini memang bukanlah suatu kesalahan, karena setiap orang memiliki tujuan masing masing dalam hidupnya.

Namun, bukankah ada pernyataan bahwa mahasiswa adalah agent of change, mahasiswa adalah agen perubahan. Sebagai seorang agen perubahan apakah sikap apatis terhadap lingkungan sosial itu merupakan cerminan dari agen perubahan? Tentunya tidak kawan. Menjadi agen perubahan berarti siap berkontribusi dalam dunia masyarakat, mungkin jika tidak terjun langsung dalam dunia per-aksian, bisa saja dalam bidang riset atau lainnya.

Jadi yang paling penting adalah terlibat dalam dunia nyata (masyarakat), baik secara langsung maupun tidak. Seorang mahasiwa harus mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, ada sebuah kata kata bijak dalam bahasa arab yang berarti “Pemuda hari ini adalah orang dewasa esok hari”. Agar dapat menjadi “orang” dikemudian hari, tentunya harus ada usaha yakni dengan banyak belajar, ingat kawan, belajar bukan hanya dari baca buku.

Ada juga yang bilang bahwa mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, hal ini sering diutarakan oleh banyak sekali aktivis dari organisasi manapun. Tentunya ini merupakan suatu hal baik yang harus dipertahankan dan terus ditingkatkan. Mahasiswa mengkritisi berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, dan ketika kebijakan tersebut dirasa merugikan rakyat, maka akan diadakan suatu konsolidasi terkait hal tersebut, tak jarang juga mereka aksi turun ke jalan.

Menjadi penyambung lidah rakyat memang suatu keharusan, jika mahasiswa hanya diam saja tanpa bergerak, tentu akan banyak penyelewengan yang mugkin dilakukan oleh pemerintah, baik sengaja maupun tidak. Mereka bertindak sesuai dengan apa yang diamanatkan pancasila. Bahwa rakyat harus diberi keadilan, dan dijaga kehormatannya oleh bangsa ini.

Akan tetapi, tak jarang juga aktivis yang merasa menjadi penyambung lidah rakyat ini melakukan suatu aksi hanya dari pandangan subjektif mereka saja.  Yang saya maksudkan disini adalah, ketika mereka mengkritisi suatu kebijakan yang dinilai kontra terhadap rakyat. Seringkali mereka lupa, entah itu dibutuhkan oleh mereka ataupun tidak. Maka dari itu saya berpendapat bahwa itu berasal dari penilaian yang subjektif saja.

Oleh karena itu, ungkapan bahwa mahasiswa menjadi penyambung lidah rakyat jangan di tafsirkan dengan turun kejalan semata saja, namun bermakna luas. Menjadi penyambung lidah rakyat ini juga bermakna pengabdian mahasiswa tersebut terhadap rakyat. Turun langsung ke desa-desa, menuangkan berbagai ide-ide yang segar kedalamnya, dan lain sebagainya.
Menjadi mahasiswa itu bukan hanya urusan birokrasi dalam kampus saja, melainkan juga diluarnya. Menjadi mahasiswa itu, bukan apatis terhadap apa yang terjadi dengan lingkungannya. Namun haruslah aktif dalam kegiatan atau agenda apapun yang dilaksanakan didalamnya. Contoh kecil, sebagai mahasiswa yang cerdas dan aktif dalam birokrasi kampus, ketika pulang kampung sudah sepatutnya ia juga aktif dalam dunia masyarakat. Bukan berkata “ah ini bukan dunia saya!!”. Padahal dunia kampus hanyalah miniatur dari dunia nyata itu sendiri.

Ditulis Oleh: Imm. Dofa Ibrah Lil Insan (Kabid. Hikmah IMM Purifikasi 2019-2020)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Puritanisme dalam Perspektif Sejarah dan Perbandingan Antaragama: Tinjauan Kristen dan Islam

Purifikasi dalam Muhammadiyah: Kajian Ilmiah Tentang Manhaj Tarjih dan Tajdid

Fikihnya Muhammadiyah: Menelusuri Manhaj Tarjih sebagai Pondasi Pemikiran