Dekonstruksi Peran IMM Dalam Etos Sumbangsih Aktivis Terhadap Negara Indonesia

 Hari ini Indonesia telah memasuki abad ke 21, yang mana telah kita ketahui bersama bahwasanya Indonesia melewati berbagai macam revolusi sebelumnya. Yakni revolusi industri 1.0 pada akhir abad ke-18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis pertama pada tahun 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi tersebut diyakini dapat berlipat ganda.

 Namun, lambat laun seiring berjalannya waktu Indonesia pun mengalami perkembangan. Maka dari itu dengan adanya revolusi industri 2.0 yang terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinati pada 1870. Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0. Dimulai dengan penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan  pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya memang biaya produksi menjadi lebih murah.

 Nah, saat ini merupakan zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini pula industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things.

 

Pada saat menghadiri acara IMM di Bangka Belitung, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa ia cukup jeli melihat peluang ini dan dianggap bisa menyumbang penciptaan lapangan kerja lebih banyak serta investasi baru yang berbasis teknologi. Sehingga dibentuklah roadmap dengan nama Making Indonesia 4.0.

 

Tak bisa dipungkiri, hal ini sangat berpengaruh terhadap anak usia remaja hingga dewasa yang notabene masih berstatus mahasiswa, bahkan bagi organisasi mahasiswa Muhammadiyah yang biasa disebut Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pun melihat bahwa hal ini sangat menjadi peluang untuk bisa memanfaatkan teknologi yang ada namun juga bisa menjadi problem yang memang sangat memanjakan saat ini. Dikarenakan juga kehadiran IMM merupakan suatu keharusan sejarah yang didorong oleh dua faktor; internal dan eksternal. Faktor internal berhubungan dengan Muhammadiyah sebagai organisasi induk yang memandang perlunya pola perkaderan (pembinaan ideologi) dan gerakan syiar dakwah di kalangan mahasiswa. Sedangkan faktor eksternal berhubungan dengan kondisi kebangsaan; realiatas sosial dan politik tahun 60an yang pada saat itu penuh gejolak.

 

Secara kritis aktivisme IMM saat ini mengalami degradasi etos. Ada tiga ciri aktivisme IMM yakni, gerakan, intelektual, dan perkaderan. Tiga hal inilah yang menjadi simbol hidupnya IMM. Tiga hal ini pula yang menjadi kunci dari identitas sebuah organisasi kemahasiswaan. Apabila ketiganya kehilangan etos, maka nilai dari organisasi pun akan hilang.

 

Namun, dewasa ini aktivisme IMM di wilayah gerakan dapat dikatakan loyo, jika tak mau dikata telah  mati. Bagaimana tidak, hingga sekarang tidak ada satu pun gerakan yang dapat dikatakan masif (konsisten) bahkan terkait persoalan intelektual kader-kader IMM menjadi getir dan  kehilangan etos. Aktivis pada masa orde baru aktif melakukan pengayaan-pengayaan wawasan akademik lewat membaca, menulis dan diskusi (literasi). Hal ini berbeda dengan aktivis mahasiswa saat ini, reformasi melahirkan demokrasi yang menjamin kebebasan berekspresi dan berpendapat setiap individu namun soal kualitas mengalami degradasi yang mencemaskan. Hal ini yang mempengaruhi dan patut dipertanyakan terkait apa sumbangsih IMM terhadap Indonesia saat ini?

 

Kita tahu bahwa saat ini kita telah memasuki tahun 2020, yang mana Indonesia akan kedatangan bonus demografi. Dan akan diperkirakan Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2035. Menjadi suatu kebanggaan bagi negara apabila dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Pasalnya, bonus demografi jarang sekali terjadi di suatu negara. Bonus demografi merupakan keadaan di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk non produktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun). 


 Saat ini pemerintah sedang berupaya keras untuk dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal melalui peningkatan kualitas pada generasi muda. Hal ini kita kerucutkan lagi bahwa perlunya aksi organisasi kemahasiswaan terutama IMM untuk bisa memanfaatkan utamanya pada bidang ekonomi yang berbasis teknologi.

 Menghadapi arus globalisasi yang semakin pesat, keterbelakangan ide dan gagasan yang muncul pada generasi saat ini terutama pada mahasiswa pun bisa jadi menurun. Hal ini dikarenakan 2 faktor pula, faktor pertama; generasi saat ini sangat terlena dengan adanya fasilitas-fasilitas yang mendukung disetiap kegiatan sehari-hari, faktor kedua; generasi saat ini bingung dengan ide pemikirannya akan ditujukan kemana dan pada siapa.  

 Perlu diketahui bahwasanya IMM merupakan salah satu tombak organisasi otonom Muhammadiyah. Hal ini akan menjadi wacana besar jika memang tidak segera diklasifikasikan dan direalisasikan. Melihat grand design IMM saat ini terutama di IMM Malang Raya ada beberapa aspek pencapaian tertentu, salah satunya adalah adanya program yang berkelanjutan dengan tujuan mampu mendekontruksikan pandangan ikatan terkait program kerja yang seringkali bersifat sekali jalan. Terkait itu pula IMM dapat membentuk komunitas-komunitas kreatif (Creative Minority) dan lembaga yang dapat menjamin serta mendorong pergerakan sesuai dengan ciri aktivisme IMM saat ini.

 Dengan adanya rancangan serta wacana yang kita ketahui tersebut, maka dapat dirumuskan bahwa sumbangsih yang dapat diberikan IMM terhadap Indonesia adalah dengan menawarkan pembentukan Badan Usaha Milik Ikatan (BUMI). Melihat kondisi yang sangat memungkinkan untuk bisa di rencanakan maka dengan kesadaran yang tinggi pula kita dapat mulai berangkat dan bergerak untuk merambah ke isu-isu nasional dan internasional. Buktikan bahwa kader IMM siap membawa perubahan menuju Indonesia berkemajuan. Kader IMM siap untuk berperan aktif dan menjadi bagian dari arus zaman tersebut.


Ditulis Oleh: Firda Rakhmayanti

Comments

Popular posts from this blog

Puritanisme dalam Perspektif Sejarah dan Perbandingan Antaragama: Tinjauan Kristen dan Islam

Purifikasi dalam Muhammadiyah: Kajian Ilmiah Tentang Manhaj Tarjih dan Tajdid

Fikihnya Muhammadiyah: Menelusuri Manhaj Tarjih sebagai Pondasi Pemikiran