Posts

Showing posts from June, 2025

Fondasi Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi dalam Ilmu Pengetahuan

 Oleh: Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK) IMM Komisariat Purifikasi (Fakultas Syariah) UIN Malang Kajian Bersama: Nurul Istiqamah, M.Ag. – 6 Maret 2025           Ilmu pengetahuan tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari proses pencarian panjang terhadap pertanyaan-pertanyaan dasar tentang kehidupan dan keberadaan. Dalam upaya memahami kedalaman ilmu, kita perlu menyelami tiga aspek fondasi utamanya yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Tiga cabang filsafat ini menjadi kerangka dalam menilai, menyusun, dan mengembangkan pengetahuan secara utuh dan bertanggung jawab.            Pada tanggal 6 Maret 2025 lalu, Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK) IMM Purifikasi (Fakultas Syariah) UIN Malang menyelenggarakan kajian via Zoom Meeting yang mengangkat tema ini secara khusus. Kajian ini menghadirkan Nurul Istiqamah, M.Ag., dosen Fakultas Syariah, sebagai narasumber. Dalam penyampaiannya, beliau tidak h...

Purifikasi dalam Muhammadiyah: Kajian Ilmiah Tentang Manhaj Tarjih dan Tajdid

  Oleh: Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK) IMM Fakultas Syariah UIN Malang             Purifikasi dalam Muhammadiyah merupakan bagian integral dari semangat tajdid (pembaharuan) yang menjadi ciri khas gerakan ini sejak awal pendiriannya. Muhammadiyah lahir sebagai respons terhadap kondisi keagamaan masyarakat Muslim Indonesia yang saat itu banyak terpengaruh oleh praktik-praktik keagamaan yang dianggap menyimpang dari ajaran murni Islam. Sebagai organisasi keagamaan, Muhammadiyah menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih serta menjauhi praktik bid’ah, khurafat, dan takhayul. Dalam kerangka inilah Majelis Tarjih berperan sebagai lembaga ilmiah yang mengkaji dan merumuskan fatwa serta pemikiran keagamaan Muhammadiyah, dengan pendekatan rasional dan tekstual yang ketat.           Istilah 'tarjih' dalam konteks Muhammadiyah mengacu pada pemilihan dalil yang lebih kuat di antara dua ...

Puritanisme dalam Perspektif Sejarah dan Perbandingan Antaragama: Tinjauan Kristen dan Islam

  Oleh: Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK) IMM Fakultas Syariah UIN Malang                Puritanisme merupakan sebuah gerakan keagamaan yang bertujuan untuk mengembalikan praktik keagamaan kepada bentuknya yang dianggap paling murni dan asli sesuai ajaran awal agama. Baik dalam konteks Kekristenan maupun Islam, puritanisme muncul sebagai respon terhadap kondisi keagamaan yang dianggap telah mengalami penyimpangan, penambahan tradisi, dan kemewahan yang tidak sesuai dengan ajaran awal. Meskipun berkembang dalam dua agama besar yang berbeda, Puritanisme Kristen dan Islam menunjukkan sejumlah kesamaan dalam prinsip, tujuan, serta dampaknya terhadap masyarakat dan politik. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas asal-usul, prinsip utama, dampak sosial-politik, serta kritik terhadap puritanisme dalam dua tradisi agama tersebut, sekaligus menyoroti relevansinya dalam konteks modern.             ...

Fikihnya Muhammadiyah: Menelusuri Manhaj Tarjih sebagai Pondasi Pemikiran

 Oleh: Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK) IMM Fakultas Syariah UIN Malang           Pada tanggal 1 Mei 2025, Bidang Kajian Pengembangan Keilmuan (KPK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Purifikasi (Fakultas Syariah) mengadakan kajian bertema "Fikihnya Muhammadiyah" di Masjid Usman bin Affan, Kota Malang. Kajian ini menghadirkan Ayahanda Rayno Dwi Adityo, M.H., selaku Sekretaris PCM Dau Kabupaten Malang, sebagai pemateri. Dalam forum yang hangat dan penuh semangat keilmuan ini, beliau mengajak para peserta untuk menyelami dasar-dasar manhaj tarjih yang menjadi pijakan fikih Muhammadiyah.  Mengenal Manhaj Tarjih           Manhaj Tarjih bukanlah sekadar metode berpikir, melainkan sebuah sistem keilmuan yang terstruktur dalam memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Kata manhaj sendiri berasal dari akar kata Arab nahaja, yang bermakna “menempuh jalan yang terang.” Muhammadiyah men...

Purifikasi dalam Muhammadiyah

            Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam modernis yang konsisten dalam melakukan tajdid (pembaharuan), terutama dalam bidang akidah, ibadah, dan sosial kemasyarakatan. Salah satu wujud tajdid tersebut adalah melalui Manhaj Tarjih sebuah pendekatan metodologis yang menjadi ciri khas pemikiran keagamaan Muhammadiyah. Artikel ini akan mengupas sejarah, perkembangan, dan relevansi gerakan purifikasi dalam Muhammadiyah, terutama melalui peran Majelis Tarjih.  -Apa Itu Tarjih dalam Muhammadiyah?           Secara istilah, tarjih dalam ushul fikih berarti memilih pendapat yang paling kuat di antara beberapa pendapat yang bertentangan berdasarkan dalil. Dalam konteks Muhammadiyah, Majelis Tarjih dibentuk sebagai forum untuk menyelesaikan persoalan hukum agama yang sering menimbulkan perbedaan pendapat di tengah masyarakat.           Didirikan oleh KH. Mas Mansur, Majelis Tarjih bertu...

Kesetaraan Gender dalam Perspektif Islam dan Muhammadiyah

Kesetaraan gender merupakan isu global yang senantiasa menjadi topik penting dalam diskursus sosial, budaya, dan agama. Dalam Islam, konsep kesetaraan gender telah termaktub jelas dalam Al-Qur’an dan praktik kenabian. Kesetaraan gender adalah prinsip yang menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk berkembang, berpartisipasi, dan berkontribusi di segala bidang kehidupan. Islam tidak membedakan derajat manusia berdasarkan jenis kelamin, melainkan berdasarkan ketakwaan dan amal kebaikan. Dalam Al-Qur’an surah An-Nisa’ ayat 32, Allah melarang umat-Nya untuk saling iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain, menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mendapatkan pahala atas amal perbuatan masing-masing. Ini menunjukkan pengakuan atas kapasitas individu tanpa mengaitkannya dengan jenis kelamin. Surah Al-Ahzab ayat 35 menjadi bukti kuat bahwa laki-laki dan perempuan diposisikan setara dalam kewajiban dan ganjaran keagamaan. Dalam ayat tersebut, Allah meny...

Kecerdasan Emosi dalam Menangani Toxic Positivity

Di era digital ini toxic positivity sering terdengar di kalangan masyarakat terutama generasi z dimana harus terlihat baik baik saja di saat perasaan dan emosi sedang mengalami tekanan, bagi generasi Z toxic positivity adalah konsep di mana pemikiran dan ekspresi positif dipaksakan secara berlebihan, bahkan ketika menghadapi kesulitan atau emosi negatif yang valid. Mereka melihatnya sebagai bentuk penolakan terhadap realitas dan kompleksitas pengalaman emosional manusia. Gen Z, yang tumbuh di era digital dengan paparan media sosial yang masif, seringkali merasa ada tekanan untuk selalu tampil sempurna, bahagia, dan "baik-baik saja". Ini membuat mereka lebih peka terhadap fenomena toxic positivity, baik yang datang dari orang lain maupun dari diri sendiri. Mereka sadar bahwa menekan atau menyangkal emosi negatif justru dapat memperburuk masalah kesehatan mental. Slogan seperti "Positive Vibes Only" atau "Good Vibes Only" di media sosial seringkali dianggap ...