JAMALUDDIN AL-AFGHANI

 Kajian "AKAR" oleh Bidang Tabligh Kajian KeIslaman

Pemateri: Imm. Raka Muhammad Rayhan


Jamaluddin Al-Afghani (1838–1897 M) dikenal sebagai tokoh sentral dan arsitek utama gerakan pembaharuan (Islah/Tajdid) di dunia Islam pada abad ke-19. Pemikirannya muncul sebagai respons keras terhadap dua masalah mendasar yang melanda umat Islam saat itu: dominasi politik dan kolonialisme Barat serta kemunduran internal yang disebabkan oleh pemerintahan otokratis, taqlid buta, dan fatalisme. Peta intelektual Al-Afghani berakar kuat pada ideologi politik dan agama yang bertujuan untuk membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam.

Pilar utama dari seluruh pemikiran Al-Afghani adalah Pan-Islamisme (al-Jami’ah al-Islamiyyah), yaitu seruan untuk menyatukan seluruh umat dan negeri Muslim di bawah ikatan solidaritas agama, tanpa memandang perbedaan suku, bahasa, atau mazhab. Konsep ini adalah strategi politiknya untuk membentuk kekuatan kolektif yang mampu melawan agresi dan hegemoni imperialisme Eropa. Ia melihat Islam bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai ideologi anti-kolonial yang dapat memobilisasi aksi politik massa. Dalam dimensi politik internal, Al-Afghani juga aktif menentang dan mengkritik keras penguasa-penguasa Muslim yang otoriter, tiran, dan korup, mendorong rakyat untuk memulai revolusi dan mengganti sistem otokrasi menjadi pemerintahan yang lebih konstitusional dan demokratis.

Untuk mewujudkan persatuan dan kekuatan ini, Al-Afghani menekankan perlunya pembaruan intelektual dan pemurnian ajaran Islam. Ia berpendapat bahwa kemunduran umat disebabkan oleh sikap fatalis yang keliru memahami takdir (qada’ dan qadar), menutup pintu Ijtihad (penalaran independen), serta maraknya khurafat, bid’ah, dan takhayul yang merusak ajaran tauhid. Oleh karena itu, ia menyerukan agar umat Islam kembali kepada sumber ajaran asli—Al-Qur’an dan Hadits—dan membuka kembali gerbang Ijtihad. Dengan Ijtihad, umat Islam didorong untuk menggunakan akal, berpikir kritis, dan menyesuaikan prinsip-prinsip Islam dengan tuntutan dan kemajuan zaman.

Terakhir, Al-Afghani sangat menekankan pentingnya pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pengadopsian teknologi modern. Ia percaya bahwa umat Islam hanya dapat mengatasi ketertinggalan mereka dari Barat dengan cara menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (sains) Barat, yang menurutnya adalah kekuatan dinamis Eropa. Ia menganjurkan reformasi kurikulum pendidikan Islam agar tidak lagi terjadi dualisme (pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum), melainkan melahirkan generasi Muslim yang terampil, berwawasan luas, dan mampu bersaing secara ilmiah, yang kemudian menjadi landasan bagi pergerakan modernisasi di berbagai negara Islam, termasuk Indonesia.


Comments

Popular posts from this blog

Puritanisme dalam Perspektif Sejarah dan Perbandingan Antaragama: Tinjauan Kristen dan Islam

Purifikasi dalam Muhammadiyah: Kajian Ilmiah Tentang Manhaj Tarjih dan Tajdid

Fikihnya Muhammadiyah: Menelusuri Manhaj Tarjih sebagai Pondasi Pemikiran